Sejarah AFY
|
Sejarah Singkat Gereja AFY |
|
||
|
A. Sejarah Gereja Nias Secara Umum Pertama-tama kita bersyukur bahwa Injil telah memasuki dan menerangi hati masyarakat Nias, ini semua terjadi hanya karena kasih Tuhan kepada umat manusia pada umumnya dan masyarakat Nias pada khususnya. Kedatangan Injil pada umumnya diakui dibawa oleh Ludwig Ernst Denninger, seorang Misionaris utusan RMG, Barmen Jerman, yang tiba di Nias pada tanggal 27 September 1865. Tahun itu bukan pertama kalinya misionaris mendarat di Nias. Pada tahun 1822/1823 pernah datang utusan Mission Etrangers (Badan Misi Katolik Roma), yakni Peter Wallon dan Pere Barat. Tetapi baru tiga hari setelah berada di Lasara Gunungsitoli, salah seorang diantaranya meninggal dunia, dan tiga bulan kemudian yang seorang lagi menyusul.
B. Sejarah Singkat AFY Gereja Angowuloa Fa’awõsa khõ Yesu disingkat AFY berkantor pusat Sinode di Desa Hilibadalu Km 31,7 Kec. Sogae’adu Kabupaten Nias Provinsi Sumatera Utara.. Gereja AFY lahir pada tanggal 9 November 1925, dipelopori oleh Toma Lombu (Ama Wohakhi), seorang kaum awam yang telah mengalami pertobatan dan lahir baru pada masa gerekan pertobatan massal yang pernah berlangsung di Nias (Tanõ Niha) pada tahun 1916. Toma Lombu adalah seorang seorang suku Nias yang bekerja sebagai mandur jalan pada pemerintahan Belanda yang berkuasa di Nias pada waktu itu. Toma Lombu dibaptis pada tanggal 25 Desember 1921 oleh seorang Missionaris dari lembaga Misi Zending (RMG) bertempat di Gereja Misi Zending Sogae’adu. Setelah pertobatannya, Toma Lombu menjadi murid Zending pada tahun 1922. Pada tanggal 9 November 1925, Toma Lombu pada perjalanan pulang dari pekerjaannya mengalami pengalaman spiritual secara pribadi, yang menjadi tanda panggilan khususnya dan mengambil keputusan untuk melayani pekerjaan Tuhan. Pengalaman khusus itu justru menjadi cikal bakal bagi Toma Lombu mendirikan persekutuan Gereja. Pada awal permulaannya Gereja AFY hanya berbentuk Persekutuan-persekutuan Doa yang langsung dipimpin oleh Toma Lombu bersama dengan teman-temannya. Selanjutnya Toma Lombu bersama dengan teman-temannya menetapkan nama persekutuan doa yang telah mereka bentuk itu dengan sebutan “Persekutuan Doa Fa’awõsa”. Untuk memperkuat persekutuan itu, maka Toma Lombu bersama dengan teman-temannya melayani dan memberitakan Injil dikampung-kampung yang belum dijangkau oleh para Missionaris Zending disekitar kampung halamannnya, ditempat-tempat itu Toma Lombu dan teman-temannya melayani dan memberitakan Injil, ditempat-tempat itu mereka mendirikan persekutuan doa “Fa’awõsa” dan serta mendirikan tempat-tempat peribadatan yang masih berbentuk pos-pos pelayanan, hingga berhasil menggabungkan 10 kampung kedalam persekutuan doa “Fa’awosa”. Pada tahun 1930, persekutuan doa “Fa’awosa” yang telah dibentuk oleh Toma Lombu mulai menghadapi tantangan dan penolakkan dari pihak para missionaris zending, hingga persoalan ini diperhadapkan secara hukum dihadapan Asisten Residen Van Nias pada masa pemerintah Belanda yang berkuasa di Nias pada waktu itu. Kemelut ini berlangsung hingga tahun 1933. Setelah melewati berbagai proses secara hukum dan pertanggungjawaban penuh dihadapan Asisten Residen Van Nias, maka pada tanggal 18 Agustus 1933, Asisten Residen Van Nias mengeluarkan Keputusan bahwa persekutuan doa “Fa’awõsa” yang dipimpin oleh Toma Lombu dinyatakan resmi berpisah dari Badan Misi Zending, dan melanjutkan panggilan pelayanannya didalam persekutuan doa “Fa’awõsa”. Artinya persekutan doa’”Fa’awõsa” dan Badan Misi Zending masing-masing melaksanakan pelayanannya sesuai dengan tugas panggilan masing-masing. Setelah keputusan itu, maka keesokkan harinya Toma Lombu dan teman-temannya melaksanakan sidang pertama kali dan memutuskan bahwa persekutuan doa “Fa’awõsa”, dimandirikan menjadi organisasi Gereja dengan sebutan tetap sebagai “Osali Fa’awõsa” (Persekutuan), dan Toma Lombu dipilih menjadi Pucuk Pimpinan dengan jabatan President. Seiring dengan itu maka pos-pos pelayanan yang telah dibentuk diberbagai tempat dimandirikan statusnya menjadi Jemaat. Dalam upaya perluasan wilayah pelayanannya, Toma Lombu dan teman-temannya terus melakukan penyebaran misi diberbagai tempat dan pelosok diseluruh wilayah kepulauan Nias serta mendirikan persekutuan jemaat dan Gereja, hingga telah memperoleh jumlah jemaat dan warga jemaat yang cukup banyak diberbagai tempat. Demikian juga didalam pembenahan sistim organisasi Toma Lombu penataan dan penguatan organisasi melalui penetapan peraturan-peraturan, baik yang berkaitan dengan pelayanan maupun keuangan, serta melaksanakan misi pengkaderan, meskipun masih dalam bentuk-bentuk sederhana. Pada perkembangan berikutnya setelah Toma Lõmbu meninggal dunia, para generasi penerus, terus melaksanakan pembenahan dan konsolidasi organisasi untuk mencapai tujuan pelayanan Gereja yang diembannya. Pada tahun 1975, Gereja AFY melaksanakan Sidang Sinode ke-VIII. Pada Sidang Sinode ke-VIII ini, nama ‘Fa’awõsa” kemudian disempurnakan nama penyebutannya menjadi Angowuloa Fa’awõsa khõ Yesu atau disingkat AFY. Selanjutnya pada tahun 1996, Gereja AFY diterima menjadi anggota PGI Wilayah Sumatera Utara. Pada tahun 1997 diterima menjadi anggota PGI dengan nomor urut 68. Hingga pada tahun 2026 ini jumlah jemaat Gereja AFY berjumlah 213 Jemaat yang dibagi kedalam 24 wilayah Resort yang tersebar diwilayah Kepulauan Nias, Tapanuli Tengah dan Tapanuli Selatan, Medan, Berastagi, Riau, Batam, Sumatera Barat, Jakarta dan Bogor dengan jumlah jiwa sebanyak 40.610 jiwa.
Visi: Gereja AFY melaksanakan tugas pelayanan ditengah-tengah dunia dengan Visi : 1. Gereja AFY memberitakan Injil dan melayani sesama manusia berdasarkan kasih karunia Allah, Anak-Nya Yesus Kristus dan Roh Kudus. (band. Markus 16:15). 2. Gereja AFY memuliakan Allah dan melalui pemberitaan Injil Manusia berdosa bertobat dan menjadi pewaris Kerajaan Allah, oleh karena penebusan Yesus Kristus, sesuai dengan rencana Allah sehingga orang percaya beroleh kehidupan yang kekal, dan mereka taat, setia kepada Yesus Kristus. (band. Yohanes 3:16; Matius 10:26-28). 3. Gereja AFY membawa perdamaian, sukacita, pemulihan dan penguatan serta keutuhan kepada semua ciptaan Allah di dunia.
Misi: Gereja AFY mewujudnyatakan tugas panggilan untuk mencapai tujuan dan fungsi-fungsi Gerejani yakni : a. Fungsi Apostolat Pemberitaan Firman Allah, mengadakan peribadatan, melayani Sakramen Baptisan Kudus dan Perjamuan Kudus dan Upacara Gerejani. (Matius 26:26-28; Matius 28:19; Markus 10:13-16). b Fungsi Pastorat Memimpin dan menggembalakan Jemaat Tuhan, menyekolahkan, mendidik dan mengadakan katekisasi atau pengajaran Firman Allah serta mentahbiskan pelayan-pelayan Gerejani c. Fungsi Diakonat 1. Gereja AFY menghadirkan rahmat Allah melalui pelayanan sosial dan kepedulian, melalui usaha bagi seluruh umat manusia, (Band. Kisah Para Rasul 6:1-4; I Korintus 16:1-4). 2. Gereja AFY meningkatkan dan memelihara tugas oikumnene serta bekerjasama dengan badan Gerejani baik dalam negeri maupun luar negeri. 3. Gereja AFY memelihara hubungan kemitraan dengan pemerintah. 4. Melaksanakan pendirian badan usaha sosial atau lembaga-lembaga pendidikan atau yayasan untuk mewujudkan tugas-tugas pelayanan Gereja. 5. Gereja AFY membimbing anggota jemaatnya menjadi warga negara yang baik dan benar yang bertakqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. ( Band. Roma 13:1-7) 6. Gereja AFY membimbing anggota jemaatnya menjadi orang Kristen yang membawa perdamaian, sukacita, pemulihan dan penguatan kepada seluruh ciptaan Allah.
D. Periode Kepemimpinan Gereja AFY hingga Tahun 2026 Periode Kepemimpinan Sinode AFY dari tahun 1925 hingga sekarang, yakni : 1. Thomas Lömbu (1925-1938), sejak resmi menjadi lembaga Gereja pada tahun 1933, Kepemimpinan organisasi Gereja AFY disebut Pengurus Pusat dengan pimpinan tertingginya diberi jabatan sebagai Presiden. 2. Samueli Lömbu (1938-1943), Kepemimpinan organisasi Gereja AFY di sebut Pengurus Pusat dengan pimpinan tertingginya diberi jabatan sebagai Ketua. 3. Badurani Zandroto (1943-1969), Kepemimpinan organisasi Gereja AFY disebut Pengurus Pusat dengan pimpinan tertingginya diberi jabatan sebagai Ketua. 4. Tehezaro Lömbu (1969-1971), Kepemimpinan organisasi Gereja AFY disebut Pucuk Pimpinan dengan Pimpinan tertinggi diberi jabatan Ketua. 5. Talini Zai (1971-1975), Kepemimpinan organisasi Gereja AFY disebut Pucuk Pimpinan dengan Pimpinan tertinggi diberi jabatan sebagai Ketua. 6. Pdt. Fulia’aro Halawa (1975-2001), Kepemimpinan Gereja AFY disebut Pengurus Besar Pusat, BPH, BPHMS-AFY dengan pimpinan tertinggi diberi jabatan sebagai Ketua/Ephorus. 7. Pdt. Sabanudin Waruwu, S.Th (2001-2010), Kepemimpinan Gereja AFY disebut BPHMS-AFY dengan pimpinan tertinggi diberi jabatan sebagai Ephorus. 8. Pdt. Yufial Zebua, S.Th (2010-2015), Kepemimpinan Gereja AFY disebut BPHMS-AFY dengan pimpinan tertinggi diberi jabatan Ephorus. 9. Pdt. Soziduhu Lömbu, M.Pd, Ephorus terpilih pada Sidang Sinode XVI AFY Sabtu (7/11/2015) di gedung Gereja AFY Tetehösi Amandaya untuk periode 2015-2020. 10. Pdt. Yanto Kurniatman Hura, M.Th., Ephorus terpilih pada Sidang Sinode AFY Periode XVII Tahun 2020-2025, Sabtu (7/11/2025) di gedung Gereja AFY Tetehösi Amandaya Resort 5 Idanogawo dan terpilih kembali Pada Sidang Sidang Sinode AFY Periode XVIII Tahun 2025-2030, Sabtu 8 November 2025 di Gereja AFY Jemaat 1.01 Pusat Hilibadalu Resort 1 Sogae’adu.
E. Kondisi Permasalahan Yang Dihadapi oleh Gereja AFY Sekarang Ini 1. Sumber Daya Manusia 2. Sumber Daya Keuangan 3. Penatalayanan 4. Konflik Theology
|
|
||